CERITA

AKAL MANUSIA

Ada seekor kerbau yang setiap pagi dibawa oleh seorang anak penggembala yang masih kecil menuju sawah yang akan dibajak. Jika tidak ada pekerjaan, kerbau itu oleh penggembala dibawa ke daerah yang banyak rumputnya. Kemana pun kerbau itu dibawa selalu saja nurut kepada majikannya yang seorang anak kecil.



Suatu saat, saat si kerbau sedang sendirian, ada seekor harimau menghampiri kerbau itu. Si harimau berkata kepada kerbau,

“Hey kerbau, saya sudah beberapa hari melihat kamu. Kamu selalu ikut saja dibawa-bawa atau disuruh-suruh oleh majikan kecilmu. Manusia majikanmu itu sangat kecil dibanding kamu, kenapa tidak kamu tanduk saja, pasti dia terpelanting jauh atau mati. Kamu jadi bebas seperti saya, bebas kemana pun saya mau.”

“Saya takut kepada anak kecil itu”, jawab si kerbau.

“Ha ha ha, dasar bodoh kamu. Masa badan kamu yang besar takut kepada anak kecil?” ejek si harimau sambil menertawakan.

“Kamu juga akan takut jika kamu mengetahui kelebihan manusia” kata si kerbau menjelaskan.

“Apa sangat kelebihan manusia itu, yang membuat kamu takut?” tanya si harimau kehairanan.

Tidak lama kemudian, anak penggembala tersebut datang. terus harimau menyapanya.

“Hey anak manusia!! Kata si kerbau kamu mempunyai kelebihan yang membuat dia takut. Apa itu?”

Anak pengembala itu menjawab, “Saya sebagai manusia diberikan kelebihan oleh Pencipta, mempunyai akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya”

“Akal itu apa? Boleh saya melihat akal kamu? Jika kamu tidak menunjukkan, saya akan memakan kamu.” tanya harimau mengancam.

“Wah saya tidak boleh menunjukkannya, karena akal saya tertinggal di rumah”. jawab si anak pengembala dengan tenangnya.

“Kalau begitu kamu ambil dulu.” kata si harimau dengan nada mendesak.

“Saya boleh mengambilnya, tetapi kamu akan lari.” Jawab anak pengembala tidak mau kalah.

“Saya janji, saya tidak akan lari” kata harimau dengan percaya diri.

“Sekarang kamu berkata begitu, setelah melihat saya membawa akal, kamu pasti lari. Bagaimana kalau kamu saya ikat? Supaya kamu tidak lari nanti.”

“Setuju” jawab harimau.

Kemudian si anak penggembala tersebut mengikat harimau tersebut di sebuah pohon. Bukan saja tidak boleh lari, tetapi sampai tidak boleh bergerak langsung. Setelah mengikat harimau, si anak pengembala pun pergi.

Kerbau yang melihat dari tadi tertawa, melihat nasib harimau.

“Sekarang kamu boleh buat apa?” tanya si kerbau. Harimau tidak boleh menjawab, dia bingung dan ingin melepaskan diri tetapi tidak boleh.

“Itulah akal manusia, he he” kata si kerbau sambil pergi mengikuti majikannya.

KISAH KELUARGA TIKUS

Ini bukan tentang keluarga Stuart Little, ini tentang sebuah keluarga tikus dengan 8 anaknya yang masih belajar mencari makanan. Kebetulan ini adalah keluarga tikus rumah, yang mencari makanan dari sisa-sisa makanan manusia. Ada dua anak tikus si belang dan si putih terjumpa sepotong keju. Namun ada pertanyaan besar bagi kedua anak tikus tersebut, sehingga mereka ragu-ragu mengambil keju tersebut.

Apa yang membuat mereka ragu? Sebab keju tersebut tidak terletak di almari. Padahal mereka biasa mencuri makanan dari almari.

“Jangan-jangan, keju itu busuk dan dibuang.” kata si putih.

“Tidak, dari jauh saya dapat mencium keju itu masih segar. Pasti sedap.” kata si belang.

“Tapi, warnanya dah buruk.” bantah di putih.

“Bukan warna yang menentukan, tetapi aromanya.” kata si belang.

“Ya sudah, kita ambil saja!” kata si putih.

“Boleh, tapi ukurannya kecil. Paling cukup untuk kita berdua.” kata si belang.

“Bukankah kata ayah, kita harus bahagikan. Kita masih ada 6 saudara.” kata si putih.

“Tapi rugilah, nanti kita dapat sedikit.” kata si belang.

“Cukuplah, tidak kecil sangat. Kita semua akan kenyang.” kata si putih.

“kalau untuk sekali makan mungkin kenyang. Tapi kalau untuk 3 kali, mesti kurang.” kata di belang.

Ternyata, ayah mereka mendengar pembicaraan kedua anaknya ini.

“Anak-anaku, apa yang kalian bicarakan adalah benar. Tetapi tidak benar sepenuhnya.” sela ayahnya.

“Apa maksud ayah?” kata si putih.

“Kamu terlalu fokus pada keju. Kalian harus melihat masalah dengan pandangan yang lain. Ini berkait hidup mati kamu.” jelas ayahnya. Tapi kedua anaknya yang belum ada pengalaman, malah hairan dan kebingungan.

“Saya tidak faham, ayah.” kata si belang mengerutkan dahinya.

“OK, tunjukan dimana kamu jumpa keju tersebut.” kata ayahnya.

Kedua anak tikus tersebut menunjukkan ayahnya letak keju.

“Apa yang kalian lihat?” tanya ayahnya menguji pandangan anak-anaknya.

“Keju, ayah!” jawab kedua anaknya serentak.

“Coba lihat lagi!” kata ayahnya sambil tersenyum. Kedua anaknya memperhatikan keju dengan seksama, tetapi mereka tetap bingung karena tidak ada yang aneh. Melihatnya anaknya kebingungan, ayah mengajak naik ke sebuah meja.

“Nah, sekarang lihat diatas meja ini. Apa yang kalian lihat?” tanya ayahnya.

“Saya melihat sebuah alat dimana ada keju di dalamnya.” jawab si putih.

“Oh iya, baru terlihat.” lanjut si belang. “Alat apa itu ayah?” tanya si belang.

“Itu adalah pertanyaan yang bagus. Kalian sudah tidak hanya fokus pada kejunya lagi, tetapi pada sistem yang lebih besar. Pertanyaan kalian ini akan menyelamatkan hidup kalian. Alat itu adalah perangkap. Jika kalian mengambil kejunya, ada senjata yang akan membunuh kalian.” jelas ayahnya.

Terang saja, kedua anak tikus ini terperanjat. terkejut bukan kepalang. Tidak terpikirkan sebelumnya. Mereka hanya fokus pada keju.

“Jika kamu melihat secara betul, pertanyaan kalian akan benar dan akan menyelamatkan kamu. Jangan fokus pada pandangan sempit dan mengambil keputusan dari pandangan itu. Dari perbezaan cara pandang ini, boleh menentukan hidup mati kamu.” jelas ayahnya dengan tatapan kasih kepada kedua anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar